Tampilkan postingan dengan label Fi'il. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fi'il. Tampilkan semua postingan

Ahwaal Binaai al-Fi'il al-Madhi

 أَحْوَالُ بِنَاءِ الفِعْلِ المَاضِى
Ahwaal Binaai al-Fi'il al-Madhi
(Bentuk Tetap Fi'il Madhi)

Perhatikan Jumlah di Bawah Ini!
 
اِشْتَدَّ البَرْدُ        ثَارَ الغُبَارُ              نَزَلَ المَطَرُ
 الأَوْلاَدُ لَعِبُوْا      الرِّجَالُ سَافَرُوْا      العُمَّالُ تَعِبُوْا
 فَتَحْتُ البَابَ      تَلَقَفْتُ الكُرَةََ          أَخَذْتُ جَائِزَةً
 صَدَقْتَ فِى قَوْلِكَ         عَدَّلْتَ فِى حُكْمِكَ             أَحْسَنْتَ إِلَى النَّاسِ
 البَنَاتُ تَعَلَّمْنَ الحِيَاكَةَ     الأُمَّهَاتُ أَطْعَمْنَ أَوْلَادَهُنَّ     الفَتَياَتُ رَتَبْنَ المَائِدَةَ
خَرَجْنَا إِلَى الحُقُوْلِ       اِسْتَنْشَقْنَا الهَوَاءَ النَقِيَّ         قَطَفْنَا الأَزْهَارَ

Penjelasan 
Jika kita perhatikan dari contoh jumlah di atas, semuanya terdapat fi'il madhi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa seluruh fi'il madhi adalah mabni (tetap). Di pelajaran ini kita ingin mengetahui perubahan yang terjadi pada fi'il madhi

Mari kita perhatikan contoh fi'il madhi di baris pertama. Kita dapati kalimah اِشْتَدَّ ثَارَ  نَزَلَ yang tidak ada bersambung dengan satu huruf satu pun. Dari contoh ini, dapat kita katakan bahwa setiap fi'il madhi yang tidak bersambung dengan satu huruf apapun maka disebut yubna/mabniyan 'alal fathi (bertanda fathah di akhir kalimah).

Kemudian kita perhatikan contoh di baris kedua. Kita dapati fi'il madhi pada baris kedua ini, semuanya bersambung dengan huruf waw jama'ah yang menunjukkan untuk jamak (lebih dari dua orang). Oleh karenanya, kita sebut kondisi seperti ini sebagai fi'il madhi mabniyun 'ala dhommah.

Pada baris selanjutnya, diketahui bahwa fi'il madhi bersambung dengan huruf taa mutaharrikah dan fi'il madhi diberi harokat sukun. Dalam keadaan seperti ini, maka kita sebut fi'il madhi mabniyun 'ala as-sukun. Demikian pula saat bersambung dengan nun niswah yang menunjukkan jamak untuk perempuan (mereka perempuan), dan "naa" yang menunjukkan arti kami sebagai fa'il. Maka semua kondisi ini fi'il madhi mabniy 'ala as-sukun, sedangkan huruf-huruf di akhirnya berfungsi sebaga fa'il.

Kaidah
al-Fi'il al-Madhi dibangun dengan fathah jika tidak bersambung dengan satu hurufpun. Jika bersambung dengan waw jama'ah maka dibangun atas dhommah. Dan jika bersambung dengan taa mutaharrikah, nun niswah, atau naa yang menunjukkan sebagai fa'il, maka fi'il madhi dibangun atas as-sukun.


Mufrodat
اِشْتَدَّ  = bertambah kuat
البَرْدُ  = dingin
ثَارَ   =
الغُبَارُ  = debu
لَعِبُوْا  = mereka telah bermain 
تَعِبُوْا  = mereka kecapaian
جَائِزَةً  = hadiah
الحِيَاكَةَ  = menjahit
أَطْعَمْنَ  = mereka perempuan memberikan makan
الفَتَياَتُ  = para pemudi
المَائِدَةَ  = hidangan 
الحُقُوْلِ  = kebun
اِسْتَنْشَقْنَا  = kami telah menghirup
النَقِيَّ  = bersih
قَطَفْنَا = kami telah memotong

Latihan
Silahkan donwload latihannya di sini (belum tersedia)

al-Tusaltsi al-Mujarrod

 التَّصْرِيْفُ الاِصْطِلاَحِيُّ
 at-Tashrif al-Isthilahiy
مِنْ الثُلاَثِيِّ المُجَرَّدِ
min al-Tusaltsi al-Mujarrod
Perhatikan contoh fi'il di bawah ini!
نَصَرَ - يَنْصُرُ    ضَرَبَ - يَضْرِبُ           فَتَحَ - يَفْتَحُ


فَرِحَ - يَفْرَحُ      كَرُمَ - يَكْرُمُ               حَسِبَ - يَحْسِبُ

Penjelasan
Seluruh fi'il madhi di atas merupakan al-Tsulatsi al-Mujarrod. Pada tiga contoh pertama di atas, harokat pada huruf keduanya adalah maftuh (fathah), adapun contoh berikutnya, dikasroh, dhommah, dan kasroh. 

Jika diperhatikan secara seksama, maka dapat ditemukan bahwa jika huruf kedua fi'il madhi maftuh (fathah), maka harokat di huruf sebelum terakhir pada fi'il mudhori'-nya bisa dhommah, kasroh atau fathah. Adapun jika huruf kedua di fi'il madhi kasroh maka ditemukan harokat pada huruf sebelum akhir di fi'il mudhori adalah fathah atau kasroh. Adapun jika huruf kedua di fi'il madhi dommah, maka dipastikan huruf kedua pada fi'il mudhori-nya hanya dhommah.

Kaidah
Dalam ats-Tsulatsi al-Mujarrod terdiri dari enam bab:
1. نَصَرَ - يَنْصُرُ
2. ضَرَبَ - يَضْرِبُ 
3. فَتَحَ - يَفْتَحُ
4. فَرِحَ - يَفْرَحُ
5. كَرُمَ - يَكْرُمُ
6. حَسِبَ - يَحْسِبُ

Mufrodat
 نَصَرَ  = dia (laki-laki) telah menolong
ضَرَبَ  = dia (laki-laki) telah memukul
فَتَحَ  = dia (laki-laki) telah membuka
فَرِحَ = dia (laki-laki) telah bergembira
كَرُمَ = dia (laki-laki) telah bermuarah hati

Pendalaman
Pelajari lebih lanjut wazan (timbangan) dari keenam bab di atas

al-Mabni wa al-Mu'rob


المَبْنِى وَالمُعْرَبُ
al-Mabni wa al-Mu'rob

Perhatikan Contoh Jumlah di bawah ini
1) أَيْنَ مَنْـِزلُكَ؟                        10) القَطْنُ عِمَادُ الثَّرْوَةِ فِي مِصْرَ
2) أَيْنَ تَذْهَبُ؟                        11) جَنَى الفَلاَّحُ القُطْنَ
3) إِلَى أَيْنَ تَسِيْرُ؟                     12) تُصْنَعُ المَلاَبِسُ مِنِ القُطْنِ
        * * *                          *  *  *
4) ذَبَحَ الجَزَّارُ شَاةً                   13) ذَبُلَتُ الوَرْدَةُ
5) الجَزَّارُ ذَبَحَ شَاةً                   14) شَمَمْتُ الوَرْدَةَ
6) هَلْ ذَبَحَ الجَزَّارُ شَاةً؟             15) نَظَرْتُ إِلىَ الوَرْدَةِ
        *  *  *                        *  *  *
7) مِنْ أَيِّ مَكَانٍ جِئْتَ؟              16) يَثْمِرُ البُسْتَانُ
8) جِئْتُ مِنْ مَنْزِلِي                   17) لَنْ يَثْمِرَ البُسْتَانُ  
9) أَخَذْتُ مِنْ أَبِي نُقُوْداً             18) البُسْتَانُ لَمْ يَثْمِرْ 
Pembahasan
Jika kita perhatikan kalimah أَيْنَ, ذَبَحَ, مِنْ di contoh jumlah di sebelah kanan (1-9) di atas, maka ditemui bahwa akhir ketiga kalimah tersebut tetap, tidak berubah, meskipun diletakkan di berbeda tempat. Kalimah  أَيْنَ, ذَبَحَ  akhirannya tetap fathah dan مِنْ akhirannya tetap kasroh

Dan jika kita perhatikan kalimah القُطْنُ ، الوَرْدَةُ ، يُثْمِرُ pada jumlah sebelah kiri (10-18) di atas, maka dapat ditemukan akhirannya pasti berubah mengikuti keadaan di mana ditempatkan. Kedua kalimah القُطْنُ ، الوَرْدَةُ didapati berubah dari rofa' (dhommah) menjadi nashb (fathah) kemudian menjadi jarr (kasroh). Sedangkan يُثْمِرُ berubah dari rofa' (dhommah) menjadi nashb (fathah) kemudian jazm (sukun).

Kaidah
  • al-Kalimah terbagi menjadi dua: yang tetap akhirannya di tempat manapun dalam sebuah jumlah disebut mabni dan yang berubah akhirnya disebut mu'rob.
  • al-Harf seluruhnya mabni, begitu pula seluruh fi'il madhi dan fi'il amr. 

Kerjakan Latihannya di sini

al-Mujarrod wa al-Majid

المُجَرَّدُ وَالمَزِيْدُ
 أَبْوَابُ المُجَرَّدِ
al-Mujarrod & al-Majid (bab al-mujarrod)

Perhatikan contoh jumlah berikut ini:

1. نَصَرَ – يَنْصُرُ               2. ضَرَبَ – يَضْرِبُ                   3. فَتَحَ – يَفْتَحُ 

4. فَرِحَ – يَفْرَحُ              5. كَرُمَ – يَكْرُمُ                      6. حَسِبَ – يَحْسِبُ

7. طَمْأَنَ – يُطَمْئِنُ         

Pembahasan
Fi'il madhi dalam enam jumlah di atas adalah "tsulatsi mujarrod." Pada fi'il di nomor pertama di atas kita baca huruf keduanya dengan harokat fathah (maftuh), sedangkan berikutnya juga dibaca maftuh, selanjutnya ada yang kasroh (maksur) dan dhommah (madhmum). 

Jika kita perhatikan dari contoh-contoh di atas, maka setiap fi'il madhi yang huruf keduanya maftuh, maka pada fi'il mudhari hurufnya akan dibaca madhmum, maksur, atau maftuh.  

Jika huruf kedua di fi'il madhi keadaanya maksur, maka hurufnya di fi'il mudhori' menjadi maftuh atau maksur, tetapi tidak pernah madmum. 

Dan jika huruf kedua di fi'il madhi keadaannya madhmum, maka huruf kedua pada fi'il mudhori; juga madmum, tidak yang lain.


Fi'il-fi'il di atas merupakan contoh yang berurutan dari bentuk yang terbanyak, jika semisal dengan نَصَر, maka disebut juga "bab nashoro"dan ini menjadi contoh terbanyak yang biasa dijadikan sebagai bab pertama. Bab kedua adalah Bab ضَرَب, begitu seterusnya.  


Adapun contoh yang ketujuh, ini merupakan fi'il ruba'i mujarrod, dan tidak ada bentuk mudhori kecuali satu saja yaitu dengan men-dhommah-kan huruf mudhori-nya (di awal fi'il) dan di-kasroh sebelum huruf akhir.

Kaidah
1) al-Fi'il al-Mujarrod ada dua; tsulasi dan ruba'i. Tsulasi dengan fi'il mudhari-nya terdiri dari 6 bab:


 نَصَرَ – يَنْصُرُ               2. ضَرَبَ – يَضْرِبُ                   3. فَتَحَ – يَفْتَحُ

4. فَرِحَ – يَفْرَحُ              5. كَرُمَ – يَكْرُمُ                      6. حَسِبَ – يَحْسِبُ

Adapun al-Ruba'i memiliki satu wazan (timbangan) saja, yaitu huruf mudhari-nya madhmum dan maksur sebelum akhir.



Pembagian Fi'il: Sahihul Akhir & Mu'talul Akhir

تَقْسِيْمُ الفِعْلِ إِلىَ صَحِيْحِ الآخِرِ وِمُعْتَلِ الآخِرِ
 Pembagian Fi'il menjadi Shahih Akhir & Mu'tal Akhir
 Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:

1) أَلْقَى الصَيَّادُ شَبَكَتَهُ                        7) خَشِيَ مُحَمَّدٌ رَبَّهُ
2) دَعَا المَرِيْضُ الطَبِيْبَ                       8) أَبْغَي رِضَا الوَالِدَيْنِ
3) يَلْقَى المَسِيءُ جَزَاءَهُ                       9) يَبْنِي البَنَّاءُ مَسْجِداً
       * * *                      *  *  *
4) سَرُوَ الرَّجُلُ                         10) أَظْلَمَ المَكَانُ 
5) تَصْفُو السَمَاءُ                       11) اتَّقَدَ المِصْبَاحُ 
6) يَدْنُو فَصْلُ الشِّتَاءُ                   12) يَسْتَحِمُّ الغُلْمَانُ

Pembahasan: 
Kalimah pada tiga jumlah pertama di atas: أَلْقَى, دَعَا, يُلْقِى seluruhnya adalah fi'il yang diakhiri dengan alif karena diucapkan sebagaimana alif (fatha di akhir fi'il). Semua fi'il tersebut disebut fi'il mu'tal akhir. 

Perhatikan kalimah pula pada tiga jumlah kedua di atas: سَرُوَ, تَصْفُو, يَدْنُو, seluruhnya adalah fi'il yang diakhiri dengan waw. Fi'il ini juga dinamakan sebagai fi'il mu'tal akhir. 

Kemudian, pada jumlah ketiga terdapat kalimah: خَشِيَ, أَبْغَي,يَبْنِي, seluruhnya adalah fi'il yang diakhiri dengan ya. Semuah fi'il ini disebut sebagai fi'il mu'tal akhir. 

Adapun contoh fi'il di jumlah yang keempat tidak disebut sebagai fi'il mu'tal akhir karena tidak diakhiri oleh alif, waw, atau ya. 


Kaidah:

- Fi'il mu'tal akhir adalah fi'il yang diakhiri dengan huruf alif, waw, atau ya. Ketiga huruf ini disebut sebagai huruf 'illah.
- Sedangkan Fi'il Shahih Akhir adalah yang kosong dari ketiga huruf 'illah